وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut:64)

Thursday, 9 April 2015

Konsep Subnetting, Siapa Takut?

Subnetting adalah termasuk materi yang banyak keluar di ujian CCNA dengan berbagai variasi soal. Juga menjadi  momok  bagi  student  atau  instruktur  yang  sedang  menyelesaikan  kurikulum  CCNA  1  program  CNAP  (Cisco  Networking  Academy  Program).  Untuk  menjelaskan  tentang subnetting, saya biasanya menggunakan beberapa ilustrasi dan analogi yang sudah kita kenal di  sekitar kita. 

Sebenarnya subnetting itu apa dan kenapa harus dilakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi sebuah jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor 01-08, dengan rumah nomor  08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot Subroto. 
Ketika  rumah  di  wilayah  itu  makin  banyak,  tentu  kemungkinan menimbulkan  keruwetan  dan kemacetan.  Karena  itulah  kemudian  diadakan  pengaturan  lagi,  dibuat  gang-gang,  rumah  yang masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya sendiri-sendiri Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta setiap gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah baru seperti di bawah: 
Konsep   seperti   inilah   sebenarnya   konsep   subnetting   itu. Disatu   sisi   ingin mempermudah pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki  15 komputer  (host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan, karena jalur lalu lintas tidak terpusat di satu network besar, tapi terbagi ke beberapa ruas-ruas gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) dan HOST ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS  (192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di network tersebut. 
Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah seperti gambar di bawah.   Gang   adalah   SUBNET,   masing-masing   subnet   memiliki   HOST   ADDRESS   dan BROADCAST ADDRESS. 
Terus apa itu SUBNET MASK? Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan  gang,  atau  membagi  network  dan  hostnya.  Address  mana  saja  yang  berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. Jl Gatot Subroto tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami 

sebagai menggunakan SUBNET MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak memiliki subnet  (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb: 

Penghitungan Subnetting, Siapa Takut? 
Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya  semua  pertanyaan  tentang  subnetting  akan  berkisar  di  empat  masalah:  Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast. 

Penulisan IP address umumnya adalah dengan  192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24,  apa  ini  artinya?  Artinya  bahwa  IP  address  192.168.1.2  dengan  subnet  mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya,  /24 diambil dari penghitungan bahwa  24 bit subnet mask   diselubung   dengan   binari 1.   Atau   dengan   kata   lain,   subnet   masknya   adalah: 
11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT. 

Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah: 

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C 
Ok,  sekarang  mari  langsung  latihan  saja.  Subnetting  seperti  apa  yang  terjadi  dengan  sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ? 
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C     dengan     Subnet     Mask /26 berarti
11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192). 
Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan  berpusat  di  4  hal,  jumlah  subnet,  jumlah  host  per  subnet,  blok  subnet,  alamat  host  dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu: 
  1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan  3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet 
  2. Jumlah Host per Subnet = 2y - 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 - 2 = 62 host 
  3. Blok Subnet = 256 - 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah  64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192. 
  4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. 
Sebagai  catatan,  host pertama  adalah  1  angka  setelah  subnet,  dan  broadcast  adalah  1 
angka sebelum subnet berikutnya. 
Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya. 

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B 
Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama, subnet mask yang  bisa  digunakan  untuk  subnetting  class  B  adalah  seperti  dibawah.  Sengaja  saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang  “dimainkan” berdasarkan blok subnetnya. CIDR  /17 sampai  /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan  seperti Class  C  yang  “dimainkan”  di  oktet  keempat.  Sedangkan  CIDR  /25  sampai  /30 (kelipatan) blok subnet kita  “mainkan” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
Ok,  kita  coba  dua  soal  untuk  kedua  teknik  subnetting  untuk  Class  B.  Kita  mulai  dari  yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24. Contoh network address 172.16.0.0/18. Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0). Penghitungan: 
  1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah  Subnet adalah 22 = 4 subnet 
  2. Jumlah Host per Subnet = 2y - 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya  binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 - 2 = 16.382 host 
  3. Blok Subnet = 256 - 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192.  Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192. 
  4. Alamat host dan broadcast yang valid? 
Berikutnya kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30. Contoh network address 172.16.0.0/25. 

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan     Subnet     Mask /25 berarti
11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128). Penghitungan: 
  1. Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet 
  2. Jumlah Host per Subnet = 27 - 2 = 126 host 
  3. Blok Subnet = 256 - 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128) 
  4. Alamat host dan broadcast yang valid? 

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A 
Kalau  sudah  mantab  dan  paham,  kita  lanjut  ke  Class  A. Konsepnya semua sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet  3 dan  4  (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2,  3 dan  4  (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30. 

Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16. 
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan     Subnet Mask /16 berarti
11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0). Penghitungan: 
1.  Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet 
2.  Jumlah Host per Subnet = 216 - 2 = 65534 host 
3.  Blok Subnet = 256 - 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc. 
4.  Alamat host dan broadcast yang valid? 

Catatan:  Semua  penghitungan  subnet  diatas  berasumsikan  bahwa  IP  Subnet-Zeroes  (dan  IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya  secara  default (meskipun  di  kenyataan  kita  bisa mengaktifkannya  dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soalsoal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x - 2 
Referensi: 
  1. Todd Lamle, CCNA Study Guide 5th Edition, Sybex, 2005. 
  2. Module  CCNA 1  Chapter 9-10,  Cisco  Networking  Academy  Program (CNAP), Cisco Systems.
  3. Hendra Wijaya, Cisco Router, Elex Media Komputindo, 2004. 
  4. Materi CCNA Romi Satria Wahono : http://romisatriawahono.net 

0 komentar :

Post a comment